Ni Wayan Purnami Rusadi, Pembudidaya Jamur Tiram dari Bali

Ni Wayan Purnami Rusadi, Pembudidaya Jamur Tiram dari Bali
Siapa yang disini sering makan jamur sebagai menu sehari-hari di rumah, memang enak sih jamur itu khususnya jamur tiram kadang dibuat pepes atau di tumis. Jamur tiram ini menurut yang aku baca konon kandungan dan manfaatnya bagus buat tubuh. Bisa meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kolesterol, membantu kesehatan jantung, sumber vitamin B3, kaya antioksidan dan meningkatkan kolagen.

Ni Wayan Purnami Rusadi, Pembudidaya Jamur Tiram dari Bali
Dokumen Ni Wayan Purnami Rusadi


Makanya jamur tiram banyak sekali diburu untuk dijadikan menu di rumah atau dibuat camilan. Nah melihat peluang ini langsung dimanfaatkan oleh Ni Wayan Purnami Rusadi, S.P., M.,Agb yang biasa disapa dengan Emick tertarik untuk budidaya jamur tiram di desa Peguyangan Kaja, Denpasar Utara, Bali tempat kelahirannya.

Emick mulai menekuni budidaya jamur tiram pada 2009. Kisahnya bermula ketika kepala desa baru Peguyangan Kaja saat itu mengaktifkan kembali kegiatan Karang Taruna Putra Negara yang sudah vakum 10 tahun. Dari hasil musyawarah, Emick dipilih sebagai ketua karang taruna.

Sebagai pengurus karang taruna, Emick dan kawan-kawan mendapatkan sejumlah pelatihan, termasuk pelatihan budidaya jamur tiram. Dari sekian pelatihan, mereka lebih tertarik mengembangkan budidaya jamur tiram yang cocok dengan cuaca di Denpasar. Selain itu, budidaya jamur bisa dilakukan di pekarangan rumah. Sejak saat itulah budidaya jamur tiram dimulai yang sebelumnya tidak ada petani jamur tiram di sini.

Ni Wayan Purnami Rusadi, Pembudidaya Jamur Tiram dari Bali
Dokumen Ni Wayan Purnami Rusadi



Setelah masa kepengurusannya sebagai ketua karang taruna selesai, Emick meneruskan usaha budidaya jamur tiram di teba atau pekarangan belakang rumah milik orangtuanya. Ia mendirikan satu kumbung di sana. Dengan mengajak kelompok (petani) jamur dari banjar lain, sempat berjalan bagus. Seiring waktu, tidak semua usaha budidaya itu berkembang. Sebagian kemudian tumbang. Beberapa tahun lalu, masih ada 36 petani jamur. Sekarang yang tersisa tinggal 10 orang.

Emick termasuk yang bertahan. Buat dia, jamur tiram kadung sudah melekat dengan dirinya. Dan memberi nama usahanya Bee Jamur.

Karena Jamur Tiram Bisa Ke Luar Negeri

Kumbung Bee jamur sampai sekarang masih di pekarangan belakang rumah orangtuanya Kumbung itu hanya berukuran 3 x 8 meter. Di dalamnya terdapat rak-rak yang diisi 2.000-3.000 baglog atau kantong media tanam tempat tumbuhnya jamur.

Emick mengatakan, satu kumbung jamur miliknya bisa memuat 6.000 kantong jamur. Tetapi, dia hanya mengisi setengahnya, yakni sekitar 3.000 kantong lantaran perubahan cuaca di Bali kadang ekstrem. Setelah 3-4 bulan sejak ditumbuhkan, jamur tiram sudah bisa dipanen. Setiap panen, satu kantong bisa menghasilkan 300-400 gram jamur.

Jika 3.000 kantong, hasil setiap panen antara 900 kilogram dan 1.200 kilogram. Panen bisa dilakukan 3-4 kali, tetapi hasilnya akan menyusut. ”Keuntungan setiap musim panen sekitar Rp 2 juta per 1.000 baglog. Setelah dikurangi ongkos produksi, Emick mengantongi laba Rp8 juta sampai Rp10 juta dari penjualan jamur tiram segar Lumayanlah untuk pertanian di lahan sempit,” kata Emick. Sebagian hasil panen dijual, sebagian lagi dikonsumsi sendiri. Jika panen melimpah, Emick mengolah jamur menjadi aneka camilan.

Ni Wayan Purnami Rusadi, Pembudidaya Jamur Tiram dari Bali
Dokumen Ni Wayan Purnami Rusadi



Permintaan jamur tiram di Kota Denpasar, Bali, cenderung meningkat. Konsumen utama Emick yakni kedai olahan jamur dan rumah makan vegetarian dan sudah masuk juga ke pasar swalayan. Selain menjual jamur tiram segar, Emick juga menjual baglog. Konsumennya masyarakat yang ingin memelihara jamur tiram skala hobi, terdiri atas 50 baglog. Emick mendapatkan tambahan penghasilan Rp 600.000 sampai Rp1 juta dari hasil perniagaan baglog setiap bulan. Sebetulnya masih asing membudidayakan jamur di Kota Denpasar karena dataran rendah.

Biasanya pekebun membudidayakan jamur pangan dari kelompok Basidiomycota itu di daerah berhawa sejuk. Lokasi budidaya tidak menjadi penghalang Emick berkebun jamur berwarna putih itu. Dia membangun kumbung di bawah pohon besar dekat rumah agar tercapai suhu yang lebih rendah daripada lingkungan sekitar. Lantai kumbung berpasir agar lebih lama menyimpan air ketika disiram supaya kelembaban terjaga.

Ternyata budidaya jamur juga membuka banyak pintu peluang bagi Emick. Saat itu, Emick dikirim pemerintah daerah mengikuti pelatihan kewirausahaan di Jakarta. Berkat jamur pula, ia pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya untuk mengikuti konferensi The Slow Food Youth Network di Milan, Italia.

Ni Wayan Purnami Rusadi
Dokumen Ni Wayan Purnami Rusadi


Slow food adalah gerakan global yang muncul pada akhir 1980-an untuk merespons maraknya fast food dan makanan instan. Seruan gerakan slow food antara lain masyarakat mesti tahu asal-usul makanan dan gizinya yang masuk ke dalam tubuh, memberikan penghargaan kepada orang yang memasak hidangan yang kita makan, mendorong masyarakat berkebun dan masak sendiri sehingga semuanya terkendali, selain itu mendorong generasi tua kembali ke dapur untuk mengajar cara dan tradisi memasak kepada generasi lebih muda.

Pulang dari Milan, Emick mencoba mengarahkan budidaya jamur sebagai bagian dari gerakan slow food. Langkah awal dilakukan dengan mentransformasikan Bee Jamur menjadi ruang pengetahuan sejak 2017. Dia undang siapa saja untuk berkunjung ke Bee Jamur dan belajar seluk beluk jamur tiram dan cara budidayanya.

Yang datang mulai murid TK, SD, SMP/SMA, mahasiswa, peneliti, ibu-ibu PKK dari berbagai daerah, hingga pensiunan perusahaan. Dalam sebulan bisa ada 3-4 kali kunjungan. Untuk murid TK dan SD, Emick biasanya akan mengajak mereka memanen jamur, menyuwir jamur, memasaknya jadi cemilan, dan mencicipinya.

Dua tahun berikutnya, Emick kembali terbang ke luar negeri. Kali ini, dia juga mengikuti acara serupa di Singapura. Terakhir, saat beberapa minggu lalu, juga berkesempatan berbagi ilmu tani di Negeri Tirai Bambu, Cina. Dia bertemu dengan ribuan petani-petani muda di seluruh belahan dunia.

Tahun 2020, Emick membuka kelas-kelas budidaya jamur bagi siapa saja yang ingin belajar. Kelas-kelas itu hampir semuanya gratis, kecuali ada permintaan makanan. “Pernah ada sejumlah instansi pemerintah dan swasta yang mau berkunjung ke Bee Jamur. Mereka tanya harga paket. Saya malah bingung jawabnya karena biasanya gratis.”

Emick mengaku mendapat kepuasan tersendiri melihat orang-orang datang ke Bee Jamur untuk belajar budidaya jamur. Pasalnya, ia tahu kegiatan ini akan membuka banyak pintu kesempatan jika ditekuni dengan baik.

Berkat jamur pula, Emick berhasil memperoleh sejumlah penghargaan di bidang kewirausahaan. Di tahun 2014 Emick meraih penghargaan sebagai juara 1 sebagai Wirausaha Muda Disdikpora Provinsi Bali. dan tahun 2017 mendapatkan pengharta SATU Indonesia Award.

Oh iya Emick ini juga berprofesi sebagai dosen di Politeknik Nasional Denpasar itu memang berencana menjadikan tempat usahanya sebagai sarana edukasi. Oleh karena itu, ia rutin menambah kapasitas produksi kumbung sebanyak 1.000 buah setiap tahun. Tujuannya agar usaha terus berkembang, dia tidak hanya berfokus pada kuantitas, yang penting adanya pembelajaran budidaya jamur.

Dengan sejumlah prestasi yang ditorehkan, Emick berharap agar ke depannya budidaya jamur tiram dapat dikenal oleh lebih banyak orang. “Ke depannya semoga orang-orang menghargai hasil pangan yang petani hasilkan. Semoga orang-orang lebih peduli dengan bahan pangan yang mereka konsumsi.”


utieadnu


Comments