Mengolah Sampah dengan Maggot

Mengolah Sampah dengan Maggot, Cara Inovatif Kurangi Limbah Makanan dan Emisi Karbon
Kalau bicara soal sampah nyatanya masih menjadi permasalahan utama, di seluruh kota yang ada di Indonesia. Apalagi aku yang tinggal di Depok padahal jaraknya cukup jauh dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, tapi kalau pas ada angin lewat, bau sampah sampai tercium dan bikin mual.

mengolah sampah dengan maggot
Maggot (Doc, Arky Gilang wahab)


Sampah akan terus bertambah seiring bertambahnya populasi manusia, tidak jarang sekali sudah banyak gerakan sosialisasi yang telah dilakukan untuk mencegah penumpukan sampah ini, mulai dari pemilihan hingga pengolahan sampah, membuat lubang biopori di setiap rumah. Tapi nyatanya tetap sata gunungan sampah di TPA semakin tinggi dan meluas. Mungkin yang melakukan sadar atas pengolahan sampah masih sangat minim mungkin perbandingannya 2 : 8

Melestarikan Lingkungan dan Menggerakkan Ekonomi Sirkular

Pengelolaan sampah mulai banyak digiatkan kembali, mulai dari yang termudah seperti pengolahan pupuk menggunakan sampah organik hingga mengolah sampah menjadi energi listrik. Salah satunya seorang pemuda inspiratif yang akan aku tulis disini yaitu Arky Gilang Wahab alumni dari S-1 Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung.

mengolah sampah dengan maggot
Arky Gilang Wahab (Doc, L Darma)

Arky Gilang Wahab, asli dari Banjaranyar, Banyumas, Jawa Tengah, yang berhasil mengubah masalah limbah organik menjadi solusi berkelanjutan melalui budidaya maggot.

Inisiatifnya dimulai dari keresahan akan tumpukan sampah organik yang menyebabkan bau tidak sedap dan berdampak negatif terhadap kenyamanan lingkungan. Dikarenakan juga tidak beroperasinya tempat pembuangan akhir sampah dan minimnya perhatian publik membuat Kabupaten Banyumas mengalami darurat sampah pada 2018.

Hal inilah yang menggerakkan Arky, yang saat itu juga sebagai Ketua Duta Petani Milenial Banyumas. terjun ke bisnis pengolahan sampah dengan membudidayakan maggot atau larva pengurai sampah organik. Ia memilih maggot atau lalat tentara hitam (BSF) karena jauh lebih efisien untuk mengolah sampah. Upaya lelaki kelahiran Banyumas, membudidayakan maggot turut berperan mengatasi darurat sampah Banyumas membawanya meraih penghargaan SATU Indonesia Awards 2021.

Mengolah Sampah dengan Maggot
Doc, ASTRA

“Dalam beberapa waktu terakhir, kami tengah menjalin kerja sama dengan TSI. Kerja sama telah dimulai pada November lalu. Setelah itu, saat sekarang membangun sarana dan prasarana untuk budidaya maggot sebagai pengurai sampah organik. Kemungkinan, pengolahan sampah bakal dimulai pada Maret 2023 mendatang,”  kata Arky

Arky memanfaatkan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mendekomposisi sampah organik. Kebetulan di lokasi TSI cukup banyak sampah organik, sehingga potensial untuk digarap.


Apa itu Maggot? 

Maggot adalah larva yang kerap kali diasosiasikan dengan lalat, dan tahap ini menjadi kunci dalam siklus hidup serangga metamorfosis sempurna. Maggot adalah agen pengurai yang efektif, berperan dalam mengurai materi organik yang sudah mati, seperti bangkai hewan dan sisa-sisa tumbuhan. Meski terlihat menakutkan, nyatanya maggot memiliki banyak peran penting.

Maggot memiliki peran penting sebagai alternatif pakan yang kaya nutrisi untuk ternak. Maggot tidak hanya membantu mengelola limbah organik, tetapi juga menghasilkan produk sampingan berupa pupa yang dapat dimanfaatkan dalam industri pakan ternak. Selain itu, budidaya maggot adalah solusi untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah organik.

Dengan memahami manfaat maggot dan merancang budidaya yang tepat, kita dapat memaksimalkan potensi serangga ini dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya pangan.

“Saya membawa nama Greenprosa yang merupakan perusahaan limbah dan bioteknologi. Kebetulan, kalau Greenprosa berpusat di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja yang menjadi cikal bakal pengelolaan sampah dengan maggot.”

Khusus untuk di TSI Bogor bakal menjadi percontohan di TSI lainnya. Nantinya, sampah organik di TSI Bogor bakal mengolah sampah organik. Yang dapat dipanen adalah maggot sebagai sumber protein pakan ikan dan hasil lainnya adalah pupuk kasgot atau bekas maggot. Diharapkan, nantinya setiap hari akan mampu menghasilkan 1 ton maggot.

Sampai sekarang, lanjut Arky, Greenprosa bersama para mitranya mampu menyerap hingga 60 ton sampah organik. “Saya kerja sama dengan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang ada di Banyumas. Selain itu juga TPA BLE (tempat pembuangan akhir berbasis lingkungan dan edukasi). Secara total, kami mampu menyerap hingga 60 ton sampah organik. Yang kami kelola adalah sampah organik yang telah dipilah,”jelasnya.

Sebelum mampu mengolah sampah organik hingga 60 ton, Arky juga membutuhkan proses panjang. Dia pulang ke desa selepas rampung kuliah dan membangun usaha di Bandung. Lulusan Teknik Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu balik ke Banyumas pada saat kabupaten setempat mengalami krisis sampah tahun 2018.

“Saat saya pulang, Banyumas tengah mengalami krisis sampah. Dari situlah muncul ide untuk membudidayakan maggot. Saya masih ingat, hanya tiga orang yang memulai usaha. Saya, adik dan teman. Kami bermula mengelola sampah dari tiga rumah saja.”

Ketekunannya membuahkan hasil, karena semakin banyak warga yang mengumpulkan sampah organik. Maka dari itu, hanya dalam waktu sekitar setahun, tepatnya 2019, pihaknya mampu mengelola sampah organik satu desa yaitu Desa Banjaranyar.

Menurut Arky, semakin banyak maggot yang dibudidayakan, maka kian meningkat juga jumlah sampah organik yang diserap. Pada tahun 2020, sampah yang diserap sebanyak 5-6 ton atau 3 truk. Sampah organik tersebut merupakan suplai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas.

Dijelaskan oleh Arky, pihaknya terus melangsungkan kerja sama dengan mitra lainnya yakni para pengelola TPST yang ada di Banyumas. Contohnya adalah TPST Sokaraja dan TPST Karangcegak, Sumbang. Kemudian berlanjut kerja sama dengan TPA BLE yang baru berdiri beberapa bulan lalu.

“Yang kami kelola berjumlah 40 ton, tetapi jika dengan mitra, jumlah sampah organik totalnya 60 ton. Jumlah mitra Greenprosa saat ini mencapai lebih dari 2.500 orang,” jelasnya.

Sampah organik yang diserap tidak hanya untuk budidaya maggot saja, melainkan juga mampu menjadi pupuk kasgot. “Bayangkan saja, dengan dekomposer maggot, hanya memerlukan waktu 24 jam. Bayangkan saja, bau sampah organik paling hanya 1-2 jam saja, setelah itu hilang berkat kerja maggot. Larva tersebut mampu mengurai limbah organik seberat 4-10 kali berat badannya,” jelasnya.

mengolah sampah dengan maggot
Limbah Sayuran yang dikumpulkan
(Doc, Arky Gilang Wahab)

Inovasi Berkelanjutan, Mengubah Sampah Menjadi Pupuk Organik

Manfaat budidaya maggot itu beragam. Yang pasti, lanjut Arky, adanya maggot mampu untuk mendekomposisi sampah organik. Artinya, sampah-sampah organik yang biasanya berbau dan dibuang begitu saja, kini dapat dimanfaatkan.

“Manfaat lainnya adalah, sampah yang didekomposisi maggot (kasgot) dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Padahal, jika dengan proses dekomposisi biasa atau bukan dengan maggot, prosesnya cukup lama. Dari sampah menjadi pupuk organik butuh berminggu-minggu, bahkan dapat mencapai waktu hingga sebulan,”katanya.

Dengan adanya pupuk kasgot, para petani merasakan manfaatnya. Sebab, dari laporan kelompok tani, pupuk kasgot mampu menjadi alternatif pemupukan di areal persawahan. Selain itu, para petani merasakan bahwa tanah semakin sehat, karena mengurangi pupuk kimia atau pabrikan.

Tanaman padi yang dipupuk dengan pupuk organik hasil dekomposisi lebih sehat. Karena merupakan pupuk organik, ternyata berfungsi juga menyehatkan kembali tanah sawah. Sehingga, sampah organik tersebut sama sekali tanpa sisa. Semuanya dimanfaatkan. Pupuk organik menjadi pakan maggot dan hasil dekomposisi maggot menjadi kasgot.

Dia juga menjelaskan bahwa budidaya maggot juga begitu menjanjikan. Karena tidak hanya mampu mengolah sampah organik semata, melainkan juga menjadi komoditas. Maggot mendukung sektor perikanan. Sebab, margot memiliki kandungan protein tinggi dan menjadi pelengkap pakan ikan.

Bahkan, pasar maggot masih terbuka sangat luas. Setiap bulan, lanjut Arky, dirinya baru mampu memproduksi 120 ton. Omzetnya mencapai sekitar Rp 500 juta setiap bulannya. “Padahal, kebutuhan maggot di pasaran saat sekarang sekitar 1.000 ton tiap bulannya. Sementara Green Prosa baru sekitar 120 ton per bulan. Jepang saja meminta suplai dari kami belum dapat terpenuhi. Karena mereka meminta pasokan sebanyak 400 ton per bulan.

Bisa dibayangkan ya, Yang awalnya hanya sebatas pengolahan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, kini Arky mampu mengolah hingga 5 ton sampah setiap hari. Limbah ini berasal dari 5.500 rumah dan 72 instansi pemerintah di kecamatan Sumbang dan Sokaraja, yang menunjukkan betapa besar dampak program budidaya maggot ini bagi masyarakat Banyumas.

Dengan program budidaya maggotnya, Arky tidak hanya membantu mengurangi limbah organik, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui produksi pupuk organik.

Inisiatif ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk lebih peduli terhadap pengolahan sampah dan pemanfaatannya. Program ini juga membuktikan bahwa solusi untuk masalah lingkungan bisa dilakukan dengan inovasi sederhana dan dedikasi tinggi. 

mengolah sampah dengan maggot
Arky Gilang Wahab (tengah), pendiri perusahaan pengolah sampah menjadi pupuk Greenprosa, berbicara dengan para mitranya tentang penggunaan larva lalat tentara hitam untuk mengurai sampah makanan di pabrik perusahaan di Banyumas


Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

Arky Gilang Wahab menjadi bukti bahwa pemuda bisa menjadi agen perubahan masyarakat. Apa yang dilakukan Arky ini bisa menjadi inspirasi bagi pemuda lainnya. Kepeduliannya terhadap permasalahan sampah, membuatnya mampu mendulang rupiah.

Arky pun mendapatkan Apresiasi SATU Indonesia Awards dari PT, Astra International TBk. Tahun 2021, Arky dinobatkan sebagai salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Award sebagai penggerak program sistem konversi limbah organik untuk ciptakan ketahanan pangan bidang lingkungan.

Penghargaan ini menjadi bentuk dukungan yang telah menjadi pelopor dan melakukan wujud nyata perubahan yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Semoga, bukan hanya di Banyumas, tapi seluruh Indonesia bisa mengatasi permasalahan sampah dengan budidaya Maggot yang ternyata bisa sangat efektif mengelola sampah dan bisa membuka lapangan pekerjaan, membantu para petani dengan pupuk yang lebih murah juga peluang ekspor maggot yang sangat besar.



utieadnu


referensi

Arky Gilang Wahab Ubah Sampah  Jadi Rupiah Dengan Budidaya Manggot

Arky Gilang Wahab Menjawab Darurat Sampah di Banyumas



Comments