Mengurai Hutan Kalimantan yang Tidak Sehijau Dulu.

Mengurai Hutan Kalimantan yang Tidak Sehijau Dulu.
Menapaki tanah ditemani rumput ilalang bekas hujan dan memandang kabut yang turun perlahan, menyelimuti pohon-pohon besar yang tidak pernah menggigil, suara desah daun menambah nikmat perjalanan. Menyusuri hutan yang tidak terlalu lebat kini. Malah terkadang terpeleset karena banyak tanah merah yang memendam sepatu. Hingga sulit berjalan, karena tidak ada lagi pegangan ranting yang mampu menahan. Semakin berjalan kedalam ternyata semakin jarang pohon yang dijumpai, yang ada hanya bentangan tanah merah yang luas dan penggalan pohon-besar hingga ujung akar.

Hati tercekat, seakan tersayat kemana hilangnya pohon-pohon besar? Pantas sedari tadi tidak ada suara nyanyian para satwa yang biasa menemani pagi yang akan tertutup karena datangnya matahari. Inilah gambaran hutan Kalimantan sekarang, Banyak orang mengatakan disini letaknya paru-paru dunia. Namun apakah sebutan itu masih layak disandang?

Mengurai Hutan Kalimantan yang Tidak Sehijau Dulu
picture pixabay


Kalimantan, pulau yang dikenal dengan kekayaan alamnya, kini menghadapi tantangan serius yang mengancam keberlangsungan ekosistemnya. Hutan-hutan yang dulunya rimbun dan menjadi rumah bagi berbagai spesies flora dan fauna kini semakin berkurang akibat aktivitas ilegal, konversi lahan, dan kebakaran hutan. Kerusakan ini tidak hanya berdampak pada keanekaragaman hayati, tetapi juga mengganggu kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada hutan untuk mata pencaharian mereka.

Bisa dibilang juga hutan Kalimantan adalah salah satu bentang alam terluas dan terkaya di dunia baik secara biologis dan budaya. Namun sayangnya, sejalan dengan pergerakan roda ekonomi Indonesia yang kian melesat, hutan-hutan tersebut terus mengalami kerusakan setiap tahunnya. Skala kerusakan hutan kita sangatlah besar sehingga sekarang memiliki dampak yang signifikan terhadap perubahan iklim global.

Hutan Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia karena kawasan hutannya yang sangat luas, yaitu sekitar 40,8 juta hektar. Sayangnya laju deforestasi di hutan Kalimantan demikian cepatnya. Deforestasi paling besar salah satunya diakibatkan oleh adanya pelepasan kawasan hutan untuk kegiatan non kehutanan. Deforestasi atau penebangan hutan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di wilayah hutan atau mengubah guna lahan hutan menjadi pemanfaatan non hutan untuk kepentingan ekonomi dan pembangunan.

Mengurai Hutan Kalimantan yang Tidak Sehijau Dulu
Picture by Lilirambe

Negara kita menduduki peringkat ketiga setelah Brazil dan Republik Demokratik Kongo sebagai Negara dengan tingkat deforestasi terbesar di Dunia. Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan dari tahun 2000 sampai tahun 2010 Indonesia kehilangan hingga 1,2 juta hektar hutan alam setiap tahun atau dua kali luas Jakarta kita kelahiranku. Faktor terbesar penggerak deforestasi di Indonesia adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan, penebangan liar, kebakaran hutan serta eksploitasi hutan secara tidak lestari untuk pembangunan pemukiman dan industri.

Hilangnya jutaan hektar hutan Indonesia tentunya memiliki dampak yang besar baik secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Banyak fauna dan flora unik yang hanya bisa ditemukan di hutan-hutan Indonesia terancam punah. Masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan juga semakin tidak berdaya. Dampak negatif dari kerusakan hutan Indonesia bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia saja tetapi juga masyarakat seluruh Dunia. Hal ini karena deforestasi yang bersifat massive ini melepaskan emisi karbon yang sangat besar. Padahal jika hutan terpelihara dengan baik maka dapat menjadi kunci mengatasi masalah pemanasan global dan perubahan iklim yang kini mengancam kita.

Jika kita terus berdiam diri dan tidak melakukan apapun dengan kondisi ini maka puluhan tahun dari sekarang kita mungkin akan kehilangan seluruh hutan kita. Melihat masalah ini ada satu pemuda asal Palangka Raya bernama Sarasi Silvester Sinurat berkomitmen untuk menjaga kelestarian hutan Kalimantan sejak 2021 bersama Ranu Welum Foundation. Baginya, menjaga hutan bukan hanya sekedar menjaga lingkungan tapi juga gerakan perubahan dalam penentu kebijakan terkait hutan di masa depan. Dia melihat sendiri bagaimana masyarakat lokal menderita, bagaimana anak-anak kesulitan bernapas karena kabut asap, dan bagaimana tanah leluhur perlahan kehilangan warna hijau.

Mengurai Hutan Kalimantan yang Tidak Sehijau Dulu
picture by Astra

Sarasi Silvester Sinurat dan Kalimantan Green Warrior

Tahun pertamanya bermula ketika dirinya dan 21 pemuda lainnya tergabung dalam sebuah kelompok projek kecil yang dikenal dengan Kalimantan Green Warrior. mempunyai misi untuk memperjuangkan, menyuarakan, dan turut terlibat dalam setiap kegiatan atau gerakan yang berkaitan dengan hutan, khususnya di Kalimantan.

Selama periodenya di 2021, Kalimantan Green Warrior aktif melakukan beberapa kali gerakan menanam di lahan gundul dari desa ke desa hingga turut terlibat langsung dalam pemadaman kebakaran, Sarasi juga terbilang cukup aktif membagikan ceritanya dengan edukasi tentang ekosistem hutan melalui talkshow online dan berkolaborasi dengan beberapa media.

Tidak berhenti hanya disitu Di tahun 2023 bersama Youth Act mengajak anak-anak muda dari seluruh pelosok Indonesia untuk ikut untuk terlibat memulihkan hutan Indonesia melalui Heartland  Project . Terdapat 1.188 orang yang bergabung dalam gerakan ini untuk menanam 2.535 pohon di rumah, sekolah dan komunitas mereka. Di Kalimantan, anak-anak muda tersebut bahkan bergerak lebih jauh dengan menanam pohon di lahan bekas tambang batu bara dan lahan terbakar serangkaian acara penanaman ini akan memberikan dampak besar. Tidak hanya untuk alam, tetapi berdampak keberlanjutan bahkan ke ekonomi.

Kiprah Youth Act Kalimantan untuk Hutan Indonesia

Sarasi dan beberapa anggota komunitas terkadang juga ikut turun dan menunjukkan perlawanannya dalam menentang kebijakan tebang liar massal atau pencemaran yang terjadi. Salah satu yang cukup dilakukan adalah membagikan kabar tentang pengukuran udara yang dilakukan rutin di beberapa lokasi.

Tidak sebatas membuat tanah Kalimantan kembali menghijau, segala kegiatan yang dilakukan Sarasi dan Kalimantan Green Warrior mendapat penghargaan apresiasi SATU Indonesia Awards di tahun 2024. Tidak hanya bergerak untuk alam, tetapi mereka beberapa kali turut bersuara membantu masyarakat setempat demi melawan masalah penggundulan hutan hingga mengedukasi menghadapi permasalahan iklim.

Sarasi mengajarkan arti keberanian yang sesungguhnya, tetap melangkah meski tahu jalannya terjal. Dia tahu bagaimana sulitnya meyakinkan orang agar gak membakar lahan, atau bagaimana lelahnya menggalang dukungan ketika banyak yang apatis. Setiap kali pohon baru ditanam, Sarasi yakin dan percaya ada harapan yang ikut tumbuh di sana. Setiap kali ada anak muda yang ikut belajar tentang lingkungan, yakin perjuangannya tidak akan sia-sia.

Berbekal rasa memiliki terhadap alam, dan yakin bumi Kalimantan akan menghijau. Sarasi juga percaya masa depan bumi ada ditangan kita semua. Walaupun, betapa sepinya perjuangan itu. Kadang hujan turun deras, jalan berlumpur, atau panas menyengat. Tapi Sarasi tetap melangkah, membawa keyakinan bahwa bumi Kalimantan masih bisa disembuhkan dan akan hijau kembali.

utieadnu



Comments