Manisnya Gula Semut Akhmad Sobirin dari Desa Semedo Banyumas
Kalau bicara tentang gula, baru tahu kalau ada beberapa jenis gula, yang kupikir gula itu hanya gula putih dan gula jawa. Makin kesini ternyata banyak jenis gula yang dipakai untuk minuman seperti gula aren, gula batu dan yang satu ini akan dibahas adalah gula semut.
Gula semut ini bukan berasal dari semut ya teman-teman, tapi berasal dari pohon kelapa nira, kemungkinan karena warnanya agak cokelat dan butiran lebih kasar ketimbang gula putih biasa makanya dinamakan gula semut.
![]() |
| Dokumen Akhmad Sobirin |
Akhmad Sobirin Memberi Manisnya Gula Semut Untuk Petani Kelapa Nira Hingga Mendunia
Seperti yang kita ketahui Desa Semedo di Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah, dulu sempat menyandang status desa terpencil dan tertinggal pada kisaran 1990-an. Selain karena lokasinya yang berada di dataran tinggi, akses ke sini sangat sulit. Dulu, sebelum dilakukan pengaspalan pada 2003-2004, jalan dibuat seadanya ditimbun dengan batu gunung yang dipecah-pecah.
Masyarakat Desa Semedo mayoritas bekerja sebagai petani, perajin kelapa nira, dan peternak. Tapi perajin kelapa nira jadi yang paling banyak jumlahnya. Dimana hampir tiap keluarga, pasti punya kebun kelapa. Tapi, selama puluhan tahun, masyarakat setempat hanya tahu memproduksi gula merah batangan. Harga jualnya Rp 5 ribu per kilogram ke tengkulak dengan sistem ijon.
Melihat desanya tidak berkembang, Akhmad Sobirin, pemuda kelahiran Semedo yang sempat merantau, pulang ke tanah kelahirannya. “Saya memutuskan untuk pulang ke desa, dengan harapan bisa membangun desa. Tapi dengan konsep yang belum matang, jadi nekat aja,” ucap Sobirin.
Saat itulah, Sobirin begitu disapa, mencoba mengenalkan gula semut ke petani dan perajin kelapa nira. Tapi, memang tidak mudah. Sebab banyak persoalan yang membelit para petani dan perajin.
Pemuda asli Semedo lulusan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Teknik Mesin. Diantara mengisi waktu kuliahnya, karena senang berwirausaha, Sejak pertama kuliah saya menjalankan bisnis apa saja. Mulai dari donat dan pulsa keliling, sampai usaha laundry. Laundry dulu terletak di Klebengan, utara fakultas Teknik UGM. Laundry itu ramai sekali, sampai pernah nolak (baju kotor) pelanggan karena saking banyaknya.
![]() |
| Dokumen Akhmad Sobirin |
Karena hatinya terpanggil untuk memajukan desanya pada akhirnya memutuskan untuk pulang dari rantauan dan kembali ke Banyumas.
Hingga pada 2011, sedang booming yang namanya gula semut atau gula kristal dengan pasar ekspor. Sejak itu, dia gencar mengajak para petani dan perajin bergabung dengannya. Sobirin lantas membentuk Kelompok Tani Manggar Jaya pada Juni 2012. Lewat kelompok ini, para petani dan perajin menuangkan segala keluh kesahnya. Sementara Sobirin, perlahan memaparkan gagasan dan mimpi-mimpinya.
Walaupun banyak tantangan terutama dari para tengkulak. Tapi tekad Sobirin semakin kuat untuk memajukan nasib para petani kelana nira.
Awalnya berangkat ke Semarang dengan difasilitasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat untuk bertemu berbagai pengusaha UKM. Disanalah dia mencoba memperkenalkan produknya bersyukur ada yang cocok.
Kini, Gula Semedo 98 persen diekspor, dua persen masuk ke pasar retail, toko online, dan toko oleh-oleh. Para petani dan perajin pun kebanjiran pesanan dari Amerika dan Eropa. Produksi gula semut pun dimulai. Mula-mula hanya setengah ton, kemudian pada 2013 memproduksi enam ton perbulan. Setahun setelahnya, mencapai 15 ton angka terbanyak. Kini, tiap bulan setidaknya produksi gula semut di kisaran 10 ton. Dan sampai sekarang pengiriman mencapai tiga hingga empat kontainer per pekan, dengan jumlah kisaran 250-an ton per bulan.
![]() |
| Dokumen Akhmad Sobirin |
Untuk perkilogramnya, gula semut dari petani dihargai Rp 25 ribu. Harga yang sangat jauh jika dibanding dengan harga gula merah batangan. Sedang, harga jual gula semut ke konsumen per kilogramnya Rp50 ribu.
Sementara, jumlah anggota Kelompok Tani Manggar Jaya juga membludak dari yang tadinya hanya 25 orang jadi ratusan. Akhirnya membentuk Koperasi Semedo Manise Sejahtera merupakan gabungan dari kelompok tani produsen gula kelapa di Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen yang secara resmi berdiri pada 2021. Yang kini anggotanya telah mencapai ribuan.
Sobirin menginisiasi pembentukan Kelompok Tani Manggar Jaya dengan tujuan memotong rantai produksi gula kelapa agar lebih efektif dan mengubah kebiasaan para penderes yang terbiasa berjalan sendiri-sendiri untuk bergabung dalam kelompok.
![]() |
| Dokumen Akhmad Sobirin |
Di antara petani kelapa Banyumas, ada satu keyakinan bahwa pohon berusia tua bakal menghasilkan nira berkualitas. Kualitas nira itulah yang akan menentukan tinggi rendahnya kualitas yang dihasilkan. Terlepas dari benar dan tidaknya keyakinan ini, pohon berusia tua berarti batangnya sudah tinggi menjulang. Sobirin juga berharap anak-anak muda Desa Semedo yang merantau mau pulang untuk mengembangkan tanah kelahirannya. Karena pengingat para petani kelapa nira ini banyak yang sudah sepuh usianya.
Mendapatkan Penghargaan SATU Indonesia Award dari Astra
Pulang ke desa, Sobirin mengalirkan perubahan untuk mendobrak sistem lama yang merugikan. Mengekspor ke mancanegara, Sobirin menyejahterakan penderes nira yang berdaya. Di tengah pandemi, Sobirin tetap lancar mengucurkan rejeki. Dengan sepenuh hati, Sobirin berwirausaha memberikan desa solusi nan mandiri.
Pada tahun 2016, Sobirin mendapatkan SATU Indonesia Awards. Kali ini Sobirin meraih hasil membanggakan dengan torehan prestasi sebagai salah satu penerima Satu Indonesia Awards di bidang Kewirausahaan. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa ikhtiarnya memberdayakan petani gula semut di Semedo melalui kewirausahaan diakui patut menjadi teladan. Masyarakat Desa Semedo pun berbangga bahwa putra terbaiknya mampu mengharumkan nama Desa Semedo yang selama ini dikenal terpelosok.
utieadnu





Comments